Bocah 2,5 Tahun Menderita Gizi Buruk

4-2ASUPAN gizi untuk anak-anak memang sangat penting bagi pertumbuhannya. Namun jika salah memberi, maka akan berakibat fatal. Seperti yang dialami Audiati, asal Desa Talio, Kabupaten Barito Selatan. Bocah perempuan berusia 2,5 tahun ini menderita gizi buruk.

Kini, anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Supianus, 38, dan Misrawati, 38, menjalani perawatan di ruang F, RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya. Sebelumnya, dia dirawat di RS Barsel.
Menurut Misrawati, sebenarnya bocah itu terlahir secara normal. Namun setelah enam bulan pascakelahiran, berat badannya menurun drastis. Bahkan kini hanya berbobot 6,3 kg. Dampak akibat gizi buruk juga menimbulkan bintik-bintik pada kulit.

“Padahal kita imunisasi juga lengkap,” katanya.

Supianus menambahkan, biaya perawatan anaknya mendapat jaminan dari dinas kesehatan Barsel. “Tapi di sini katanya tidak berlaku. Cuma satu kali pengobatan saja yang berlaku. Setelah itu tidak katanya,” ucap lelaki yang bekerja sebagai petani.

Saat dikonfirmasi, Kabid Diklit dan Pendidikan sekaligus sebagai Ketua Kesehatan Kerja Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana (K3), serta bagian Humas RSUD Doris Sylvanus dr Theodorus Sapta Atmadja, menyebut tidak demikian.

Menurut Theo, RSUD memiliki dana untuk pasien yang benar-benar tidak mampu. Dengan catatan memberikan surat keterangan tidak mampu. “Kalau yang bersangkutan tidak mampu tapi terdaftar di BPJS, maka kita gunakan BPJS. Tapi kalau tidak terdaftar, kemungkinan besar tidak dipungut biaya. Karena kita lihat penyakitnya seperti ini. Nggak mungkin lah kita ngambil biaya dari pasien tersebut,” janjinya.

Dokter Spesialis Anak Citra Raditia menjelaskan, gizi buruk merupakan suatu penyakit. Ini akibat anak kekurangan energi dan protein. Biasanya terjadi pada anak yang berlatarbelakang ekonomi ke bawah.

“Kekurangan asupan itu biasanya terjadi pada golongan ekonomi yang rendah atau mungkin dia (orang tua) tidak mengerti bagaimana memberikan asupan yang baik untuk anaknya,”

“Sehingga lama-lama anak tersebut akan kekurangan energi, protein lemak, dan akhirnya kekurangan berat badan. Tumbuh kembangnya tidak baik, kemudian gagal tumbuh. Dan kalau misalnya terjadi komplikasi, bisa terjadi penumpukan cairan, pelemakan hati, kemudian penurunan gula darah, dan kemunduran tumbuh kembangnya anak,” jelasnya.

Ada tiga dampak jika anak terkena gizi buruk. Pertama, anak menderita hipogelikemi atau gula darah yang rendah. Ini karena asupan gizi kurang. Hipolgikemi juga bisa menyebabkan anak lemah bahkan bisa kejang. Kedua, Dehidrasi. Ini juga lantaran anak kekurangan asupan. Ketiga, hipotermi atau pertumbuhannya kurang. Penyebabnya karena anak kekurangan jaringan lemak, dan jika penderita sudah kedinginan akan berakibat bahaya.

“Itu yang kita atasi tahap pertama. Kalau sudah, kita masuk pada mentenesnya. Jadi kita atur kalori buat penderita, berdasarkan berat badan, tinggi badan, dan memperhatikan makanan. Kita kasih makanan dengan kalori yang sesuai, ditambah suplemen mineral dan zat besi,”

“Kalau saat ini penanganan masuk tahap mentenesnya,”

Kemudian, lanjutnya, penderita gizi buruk akan berdampak pada pembesaran hati. Hal ini bisa terjadi karena metabolismenya tidak benar.

Menurut dia, di usia 2,3 tahun, anak tersebut seharusnya memiliki bobot 13 kilo. “Terus biasanya enam bulan pertama tidak ada gizi buruk buat anak. Karena gampang minum susu saja. Setelah itu 6 bulan ibu-ibu kemungkinan tidak ngerti berapa karbohidratnya dan kalori makanannya. Sehingga hanya dikasih susu dan air. Lama kelamaan tidak ada tumbuh kembangnya anak. Lalu berakibat pada tumbuhnya bintik-bintik pada kulit anak,” tuturnya.






Comments are Closed

    rails

    ruby