RSUD Doris Tangani 32 Pasien DBD, Satu Meninggal Dunia

DOKTER SPESIALIS ANAK Citra Raditia KETIKA MEMERIKSA pasien DBD Eriko Obrin Ortega di ruang F RSUD Doris Sylvanus Palangka RayaRUMAH Sakit Umum Daerah (RSUD) Doris Sylvanus Palangka Raya menangani 32 kasus pasien demam berdarah selama 14 hari 2015. Di awal tahun, satu pasien dinyatakan meninggal dunia.

Hal ini diungkapkan Kabid Diklit dan Pendidikan sekaligus sebagai Ketua Kesehatan Kerja, Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana (K3) dr Theodorus Sapta Atmadja, Kamis (15/1).

“Sampai sekarang ada 32 kasus DBD. Sebagian ada yang sudah pulang dengan rawat jalan, dan ada pula pasien rawat inap (di ruang F),” kata lelaki yang juga sebagai Humas RSUD Doris Sylvanus kepada wartawan, kemarin.

Dari jumlah kasus tersebut, satu orang dinyatakan meninggal dunia. “Satu yang meninggal dunia berasal dari perusahaan. Itu sekitar dua minggu lalu (awal tahun),” ungkapnya.

Dia menuturkan, penderita DBD mayoritas berasal dari Palangka Raya tapi ada pula dari daerah setelah sebelumnya mendapat surat rujukan. Namun dia menyebut, seseorang yang meninggal dunia akibat DBD lantaran telat dirujuk.

“Kalau terkena DBD, pasien mengalami ganggung dalam aliran darah. Biasanya kita atur cairannya saja. Nah bagi yang meninggal, biasanya telat rujukan,”

Sebenarnya, lanjut dia, setiap RS di daerah juga memiliki penanganan penderita DBD. Sedangkan bila dirujuk ke Doris, secara umum pasien sudah mengalami komplikasi di dalam tubuh.

Ada beberapa tips supaya tidak terserang penyakit DBD. Yakni pemberantasan sarang nyamuk mulai dari bintik-bintik nyamuk sampai dengan dewasa. Kemudian, menguras air dalam bak mandi maupun lainnya secara rutin. Lalu menjaga kebersihan ruangan. “Yang paling efektif itu PSN (pemberantasan sarang nyamuk),” tuntas Theo.

Sementara itu, satu dari beberapa pasien rawat inap di ruang F diketahui bernama Eriko Obrin Ortega, 12. Anak kedua dari pasangan Karsudiono, 39, dan Lilis Widayanti, 35, ini masuk pada Rabu (14/1).

Menurut Karsudiono, gejala awal timbul setelah anaknya digigit nyamuk seusai pulang sekolah sekitar pukul 10.00 WIB.

“Beberapa jam kemudian badan anak saya terasa panas dingin. Karena kami kira biasa-biasa saja, jadi masih kami rawat di rumah. Tetapi selama tiga hari tidak ada perubahan. Kemudian kami cek di RS Bhayangkara dan dinyatakan terkena DBD,” ucap warga Danau Mare, Jalan Tjilik Riwut Km 6,5 Palangka Raya ini.

Setelah positif DBD, lanjut dia, tim medis menyarankan agar menjalani perawatan lanjutan di RSUD Doris Sylvanus. Berbekal surat rujukan, mereka akhirnya membawa anak sesuai petunjuk dokter.






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *