Penderita DBD Meningkat Dua Kali Lipat

DOKTER SPESIALIS ANAK Citra Raditia KETIKA MEMERIKSA pasien DBD Eriko Obrin Ortega di ruang F RSUD Doris Sylvanus Palangka RayaJUMLAH penderita demam berdarah (DBD) terjadi peningkatakan dibanding pada pertengah bulan ini tepatnya Kamis (15/1/2015) edisi Borneonews, Jumat (16/1) lalu.

Bahkan angka penderita meningkat dua kali lipat yang mulanya berjumlah 32 menjadi 76 pasien. “Ada peningkatan dari beberapa hari yang lalu. Totalnya saat ini berjumlah 76 pasien. Itu merupakan pasien rujukan maupun datang sendiri baik dari kondisi darurat maupun poliklinik,” kata Kabid Diklit dan Pendidikan sekaligus sebagai Ketua Kesehatan Kerja, Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana (K3) dr Theodorus Sapta Atmadja, Selasa (27/1).

Dari jumlah tersebut, 63 di antaranya sempat dinyatakan rawat inap. Namun setelah mendapat penanganan tim medis, sebagian besar sudah bisa pulang walaupun masih rawat jalan. Saat ini, tercatat ada empat pasien yang menjalani rawat inap di RSUD Doris Sylvanus.

“Dari keempat orang tersebut, satunya anak-anak. Kemudian sampai saat ini jumlah yang meninggal dunia akibat DBD, hanya satu orang. Itu pun rujukan. Kita berharap khusus pasien yang menjalani perawatan di RSUD Doris Sylvanus tidak ada lagi yang meninggal,” harap lelaki yang juga menjabat sebagai Humas RSUD Doris Sylvanus.

Menurutnya, masyarakat harus aktif untuk memberantas sarang nyamuk dan tidak hanya mengandalkan pihak dinas kesehatan melakukan fogging (pemberantasan nyamuk dewasa). “Daerah Palangka Raya sudah merata. Semua ada DBD. Jadi menurut saya fogging memang kurang efektif. Tetapi fogging ini diberikan khususnya bagi yang pernah menderita berat. Misalnya pasien pernah terkena DBD atau bahkan bisa sampai pada kematian,” ungkapnya.

Di hari yang sama, pihak Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya melakukan fogging di Jalan Nyai Anet. Amrani, bagian Seksi Kesehatan Lingkungan Dinkes Kota Palangka Raya mengatakan, lokasi pembasmian berdasarkan laporan beberapa kasus penderita DBD.

Namun demikian, ada beberapa kendala dalam pelaksanaan pembasmian tersebut. Yakni tidak semua warga menerima pembasmian itu di lingkungan mereka. Padahal dirinya juga tidak menampik kalau daerah Kota Palangka Raya sudah merata dengan DBD. Dari beberapa laporan, daerah yang paling rawan yakni kawasan kelurahan Bukit Tunggal, Menteng dan Langkai.

Kabid Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Dinkes Kota Nor Sumiati menambahkan penderita DBD khusus di Kota Palangka Raya berjumlah 43 orang. Dari jumlah tersebut belum ada yang dinyatakan meninggal dunia.

Kegiatan pembasmian sarang nyamuk oleh dinkes kota mendapat apresiasi warga meskipun sebagian di antaranya menolak. Adalah seorang mahasiswi bernama Ibi, 20. Menurutnya, pembasmian sarang nyamuk memberikan dampak manfaat besar bagi warga.

“Saya sangat setuju sekali. Karena dengan pembasmian ini lingkungan akan terhindar dari nyamuk. Dan kesehatan bisa terjaga,” kata gadis kuliahan berparas ayu itu.

Rasa setuju itu juga setelah pada dua minggu lalu, dirinya termasuk sang adik Rizki sempat menjalani perawatan akibat DBD. Bahkan Rizki juga sempat masuk ke ruang ICU. “Sekarang sudah sembuh dan sudah bisa sekolah lagi adik saya,” tuturnya.






Comments are Closed

    rails

    ruby