Bikin Terharu! Ini Pesan Bapak Kepada Anaknya Lewat Facebook

Bikin Terharu! Ini Pesan Bapak Kepada Anaknya Lewat Facebook



Bikin Terharu! Ini Pesan Bapak Kepada Anaknya Lewat Facebook – Media sosial saat ini semakin marak terjadi, terbukti banyaknya pengguna Facebook (Salah satu media sosial terbesar di dunia) yang merajalela ini membuat para kalangan anak muda berbondong-bondong untuk mendaftar akun facebook. Bahkan bukan hanya para kaula muda saja, namun para orang tua pun sudah berinteraksi sosial dengan menggunakan Facebook.

Namun di artikel kali ini kita tak akan membahas tentang hal-hal alay yang ada pada Facebook, namun kita akan membahas tentang sebuah akun facebook seorang anak yang kemasukkan pesan atau inbox dari ayahnya. Ini merupakan kisah nyata yang perlu kita renungkan.

Suatu hari, seorang “bujangan” membuka laptopnya. Dia kemudian langsung mengetik URL www.facebook.com lalu pertama kali dia tentu membuka pesan. Kemudian si “bujangan” tersebut membuka tab other, dan disitu terlihat ada 2 pesan. Satu pesan spam yang tentu si bujangan tersebut di abaikan. Namun pada pesan yang kedua, terlihat pesan tersebut dikirim 5 bulan yang lalu dan ternyata yang mengirim pesan tersebut adalah ayahnya sendiri. Berikut pesannya.

============================================================

“Salam

Ini kali pertama abah mencoba menggunakan facebook. Abah coba tambah kamu sebagai teman tapi tidak bisa. Abah juga tidak terlalu paham benda ini. Abah coba kirim pesan ini kepada kamu.
Maaf, abah tidak pandai mengetik. Ini pun kawan abah yang mengajarkan.

Ingatkah saat pertama kali kamu punya HP? Saat itu kamu kelas 4 MI. Abah kasian semua anak-anak sekarang punya HP. Jadi, abah hadiahkan pada kamu satu. Dengan harapan kamu akan telpon abah kalau kamu mau cerita tentang masalah asrama, sekolah atau apa-apa saja.

Tapi, kamu hanya telpon abah seminggu sekali. Tanya tentang uang makan dan jajan. Abah berpikir juga, isi ulang pulsa 100 ribu tapi telpon abah tidak sampai 5 menit. Sudah habiskah pulsanya?

Saat kamu kecil dulu, abah masih ingat pertama kali kamu bisa ngomong. Kamu asyik panggil, ‘Abah, abah, abah’. Abah Bahagia sekali anak lelaki abah panggil abah. Panggil Umi.

Abah senang bisa berbicara dengan kamu walaupun kamu mungkin tidak ingat dan tidak paham apa yang abah ucapkan di umur kamu 4 atau 5 tahun. Tapi, percayalah. Abah dan Umi bicara dengan kamu banyak sekali. Kamulah penghibur kami di saat kami berduka. Walaupun hanya dengan gelak tawamu.

Saat kamu masuk MI. Abah ingat kamu selalu bercerita dengan abah ketika membonceng motor dengan abah setiap pergi dan pulang sekolah. Banyak yang kamu ceritakan pada abah. Tentang ibu guru, sekolah, teman-teman.

Abah jadi makin bersemangat bekerja keras mencari uang untuk biaya kamu ke sekolah. Sebab kamu lucu sekali. Menyenangkan.
Ayah mana yang tidak gembira kalau anaknya suka ke sekolah untuk belajar.

Ketika kamu masuk MTs. Kamu mulai punya kawan-kawan baru. Kamu pulang dari sekolah, kamu langsung masuk kamar.
Kamu keluar pas waktu makan saja. Kamu keluar rumah dengan kawan-kawanmu.

Kamu mulai jarang bercerita dengan abah.
Kamu pandai. Akhirnya masuk asrama di Aliyah. Di asrama, jarak antara kita makin jauh. Kamu mencari kami saat perlu. Kamu biarkan kami saat tidak perlu.

Abah tahu, naluri remaja. Abah pun pernah muda. Akhirnya, abah tahu kalau ternyata kamu menyukai seorang gadis.

Ketika masuk kuliah, sikap kamu sama saja dengan ketika di Aliyah. Jarang hubungi kami. Sewaktu pulang liburan, kamu sibuk dengan HP kamu, dengan laptop kamu, dengan internet kamu, dengan dunia kamu.

Abah bertanya-tanya sendiri dalam hati. Adakah kawan istimewa itu lebih penting dari Abah dan Umi? Adakah Abah dan Umi cuma diperlukan saat kamu mau nikah saja sebagai pemberi restu? Adakah kami ibarat tabungan kamu saja?

Akhirnya, kamu jarang berbicara dengan abah lagi. Kalau pun bicara, dengan jari-jemari. Berjumpa tapi tak berkata-kata. Berbicara tapi seperti tak bersuara. Bertegur cuma waktu hari raya. Tanya sepatah kata, dijawab sepatah kata. Ditegur, kamu buang muka. Dimarahi, kamu tak cuti kemari lagi.

Malam ini, abah sebenarnya rindu sekali pada kamu.

Bukan mau marah atau mengungkit-ungkit masa lalu. Cuma abah sudah terlalu tua. Abah sudah di penghujung usia 60 an. Kekuatan abah tidak sekuat dulu lagi.

Abah tidak minta banyak…

Kadang-kadang, abah cuma mau kamu berada di sisi abah.

Berbicara tentang hidup kamu. Meluapkan apa saja yang terpendam dalam hati kamu.

Menangis pada abah. Mengadu pada abah.

Bercerita pada abah seperti saat kamu kecil dulu.

Apapun. Maafkan abah atas curhat abah ini.

Jagalah solat. Jagalah hati. Jagalah iman.

Mungkin kamu tidak punya waktu berbicara dengan abah. Namun, jangan sampai kamu tidak punya waktu berbicara dengan Allah.

Jangan letakkan cinta di hati pada seseorang melebihi cinta kepada Allah.
Mungkin kamu mengabaikan abah. Namun jangan kamu mengabaikan Allah.

Maafkan abah atas segalanya.”

============================================================

Bagaimana? Saya pribadi sih merasa sangat sedih sekali membaca pesan tersebut. Maka dari itu, jangan lah sia-siakan waktu kamu, gunakan lah waktu kamu sebisa mungkin untuk menghubungi ayah kamu, sayangilah kedua orang tua kamu dan jagalah mereka.

Artikel ini bersumber dari salah satu thread dari KASKUS






Comments are Closed